Rabu, 14 November 2018

Sistem Pengendalian Manajemen. Bab 5


RANGKUMAN
SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
BAB 5
PUSAT LABA
1.      Pusat laba adalah pusat tanggung jawab yang mempunyai tanggung jawab atas laba yang dihasilkan dan diukur melalui pendapatan dan beban. Pusat laba diukur dengan menggunakan efektivitas dan efisiensi. Suatu pusat laba dapat berdiri secara independen. Jika terdapat suatu kegiatan produksi dan pemasaran dalam unit bisnis, maka diibaratkan perusahaan adalah independen dari unit bisnis lainnya. Proses tersebut dapat disebut dengan divisionalisasi, karena mereka telah melimpahkan wewenang yang lebih luas kepada tiap manajer operasi unit bisnis. Walaupun pelimpahan wewenang berbeda-beda dari suatu unit bisnis, namun wewenang untuk menghasilkan laba tidak pernah dilimpahkan hanya ke satu unit bisnis saja.
2.      Kondisi yang perlu diperhatikan dalam pendelegasian pusat laba adalah :
a.       Manajer harus memiliki akses informasi yang relevan yang dibutuhkan dalam membuat keputusan
b.      Mengukur efektivitas trade-off
Suatu keputusan manajemen melibatkan usulan untuk meningkatkan beban dengan harapan bahwa hal tersebut akan menghasilkan peningkatan pendapatan. Pertimbangan tersebut dapat disebut dengan pertimbangan biaya/pendapatan atau trade-off. Trade-off adalah suatu pertukaran bahwa dengan adanya beban maka akan menghasilkan pendapatan. Maka, untuk memberikan perintah tentang suatu trade-off tersebut ketingkat manajemen lebih bawah harus mempunyai suatu kondisi diatas supaya dapat tersampaikan dengan baik.
3.      Keunggulan pusat laba adalah :
a.       Peningkatan kualitas keputusan, karena manajer tahu akan lingkungan yang dihadapi
b.      Keputusan lebih cepat, karena tidak perlu persetujuan/koordinasi langsung dengan kantor pusat
c.       Pimpinan puncak terbebas dari kegiatan operasional harian, karena dalam pusat laba sudah ada yang mengendalikan sendiri sehingga dapat berkonsentrasi pada hal lainnya
d.      Manager dapat meningkatkan inisiatif dan imaginasinya, karena manajer tunduk pada sedikit batasan/aturan yang mengikatnya
e.       Sarana pelatihan manager, karena pusat laba serupa dengan perusahaan independen maka manajer akan mendapat pengalaman dalam mengelola seluruh fungsional perusahaan dan manajemen yang lebih tinggi akan mendapat kesempatam untuk mengevaluasi potensi pekerjaan ke tingkat yang lebih tinggi.
f.        Lebih memperhatikan tujuan laba, karena manajer bertanggungjawab atas laba maka akan selalu mencari cara bagaimana dapat meningkatkan laba
g.      Informasi kinerja dari setiap pusat laba, akan diberikan berupa informasi siap pakai bagi manajemen puncak mengenai profitabilitas dan komponen lain perusahaan
h.      Peningkatan kemampuan bersaing, akan didapat jika output yang dihasilkan siap pakai maka pusat laba sangat responsif supaya dapat meningkatkan kinerja secara kompetitif.
4.      Permasalahan yang dihadapi adalah :
a.       Kesulitan pengendalian, karena manajemen puncak lebih mengandalkan laporan pengendalian dari bawahan bukannya wawasan secara langsung terhadap suatu operasi
b.      Kualitas keputusan mungkin tidak selalu meningkat, karena suatu informasi yang lebih baik hanya ada di manajemen kantor pusat maka suatu keputusan pun hanya berasal dari manajer kantor pusat, bukan berasal dari unit bisnis itu sendiri
c.       Friksi/perselisihan antar pusat laba, terjadi karena adanya, misalnya kesepakatan untuk menetapkan harga transfer, alokasi biaya umum, kredit untuk meningkatkan penjualan, dll
d.      Persaingan antar pusat laba, terjadi jika peningkatan laba hanya untuk satu manajer saja sehingga ada kemungkinan untuk tidak saling bekerja sama hanya untuk meningkatkan laba unit bisnisnya
e.       Peningkatan biaya, karena adanya divisionalisasi yang mengakibatkan biaya tambahan sehingga informasi harus didesentralisasikan ke banyak orang, misalnya tambahan manajemen, pegawai, pembukuan, dll
f.        Lebih menekankan kinerja jangka pendek, karena ingin melaporkan laba yang tinggi maka harus mengesampingkan kinerja jangka panjangnya (dalam hal ini misalnya pelatihan pegawai, penelitian dan pengembangan) padahal dalam kinerja jangka panjang akan lebih bermanfaat karena dapat meningkatkan laba secara berkesinambungan.
g.      Optimalisasi laba setiap pusat laba belum tentu mengoptimalkan laba organisasi keseluruhan, karena tidak adanya sistem yang paling memuaskan untuk memastikan optimalisasi laba secara umum.
5.      Kendala pembentukan pusat laba.
Dalam suatu kendala, sebenarnya dalam pusat laba tersebut mempunyai sistem yang bagus, namun ada keterbatasan sehingga pusat laba tidak berjalan secara optimal.
a.    Kendala dari manajemen puncak. Sebenarnya pusat laba adalah baik karena tidak adanya keputusan manajemen puncak, namun karena adanya suatu kendala, suatu pusat laba mengharuskan untuk mendapat campur tangan dari manajemen puncak. Campur tangan tersebut dapat berupa :
·    Batasan yang timbul atas pertimbangan strategi dari unit bisnis dalam menetapkan laba
· Batasan yang timbul karena adanya keseragaman yang diperlukan, misalnya keseragaman atas biaya produksi, penggajian, dll
·       Batasan yang timbul dari nilai ekonomis sentralisasi
b.    Kendala dari unit bisnis lain. Terdapat suatu unit bisnis lain yang bekerja sama dengan unit bisnis yang kita tempati. Misalnya, Divisi A membutuhkan bahan baku dengan bahan baku tersebut diproduksi oleh Divisi B. Hal tersebut tentunya membutuhkan campur tangan manajemen puncak misalnya untuk menetapkan harga transfer yang sesuai dan adil.
c.    Kendala otoritas. Kendala otoritas terjadi jika manajemen puncak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan keputusan, masih terdapat campur tangan pimpinan puncak dengan mengandalkan suatu sinerginya. Menggunakan kewenangannya untuk menjalankan sesuatu.
6.      Pusat laba lainnya. Dalam pusat laba lainnya biasanya adalah organisasi fungsional yang diperlakukan sebagai pusat laba. Hal tersebut dikarenakan lebih mudah dan berdasarkan pengaruh, fungsional mempunyai pengaruh yang lebih besar. Pusat laba tersebut yaitu :
a.       Pemasaran. Dapat dijadikan sebagai pusat laba dengan membebankan biaya dari produk yang terjual, yaitu melalui harga transfer. Ditentukan berdasarkan harga transfer karena mempunyai informasi yang relevan untuk menajer pemasaran dalam membuat trade-off pendapatan dan pengenluaran yang optimal. Namun, harga transfer yang dibebankan harus berdasarkan biaya standar/dianggarkan karena dengan biaya standar dapat memisahkan kinerja antara biaya pemasaran dan biaya produksi.
b.      Produksi. Biasanya sebagai pusat beban, karena manajemen menilai berdasarkan kinerja dibandingkan dengan biaya standard dan anggaran biaya overhead. Namun, terdapat pengukuran aktivitas produksi yang secara menyeluruh, yaitu dengan cara menjadikan produksi sebagai pusat laba dan dinilai berdasarkan harga jual produk yang terjadi dikurangi dengan estimasi biaya pemasaran.
c.       Unit jasa dan pendukung. Digunakan sebagai alat untuk mendukung dan memberikan jasa dalam kegiatan mencapai laba. Unit yang dapat menjadi pusat laba, mislanya unit pemeliharaan, teknologi informasi, transportasi, teknik, layanan konsumen, dll. Unit bisnis tersebut membebankan biaya jasa, untuk menghasilkan bisnis yang mencukupi sehingga paling tidak penghasilan setara dengan pengeluaran. Ketika unit jasa dikelola, manajer termotivasi untuk mengendalikan biaya supaya konsumen tidak pergi. Hal tersebut dikarenakan para manajer dapat memberikan keputusan tentang jasa yang diberikan sesuai dengan harga yang disepakati.
d.      Organisasi lainnya (cabang). Meliputi organisasi cabang (dealer) disuatu area geografis tertentu dimana manajer tidak mempunyai tanggung jawab atas produksi sehingga cabang hanya mempunyai tanggung jawab menerima barang jadi untuk dijual. Ukuran kinerja yang digunakan adalah tingkat profitabilitas.
7.      Pengukuran kinerja. Terdapat 2 pengukuran kinerja, yaitu :
a. Management performance, yaitu suatu pengukuran yang menekankan pada keberhasilan/kinerja pimpinan untuk mencapai tujuan.
b.      Economic performance, yaitu suatu pengukuran yang menekankan pada kegiatan bisnis apa yang dikerjakan dalam unit bisnis.
8.      Dari 2 jenis pengukuran tersebut, maka terdapat konsep-konsep dalam pengukuran laba, yaitu :
a.       Laba kontribusi. Laba kontribusi mengukur selisih antara pendapatan dan biaya variabel. Alasan utama laba kontribusi dapat digunakan sebagai pengukur pusat laba karena menghindari biaya tetap. Dalam biaya tetap, terdapat unsur kebijakan biaya diluar kendali, sehingga unit bisnis tidak bisa menentukan sendiri seberapa besar biaya yang digunakan. Terdapat pengertian antara biaya terkendali dan diluar kendali. Biaya terkendali adalah biaya yang kebijakannya ditentukan dari pusat dan biaya tersebut dapat dikendalikan oleh manajer pusat laba. Misalnya, biaya penyimpanan barang (gudang), biaya transportasi, dll. Sedangkan biaya tidak terkendali adalah biaya yang ditentukan oleh pusat dan manajer pusat laba hanya mengikuti saja.
b.      Laba langsung divisi. Diukur berdasarkan laba kontribusi dikurangi dengan biaya tetap pusat laba (divisi). Dalam ukuran tersebut, jika terdapat campur tangan dari pusat (pusat menentukan biaya tetap pusat laba) maka tidak bisa digunakan sebagai pengukuran kinerja.
c.       Laba terkendali. Diukur berdasarkan laba langsung divisi dikurangi dengan biaya terkendali dari pusat (misalnya biaya layanan teknologi) sehingga laba dapat dikendalikan oleh manajer divisi. Karena laba tersebut dapat dikendalikan oleh suatu kendali manajemen, maka bisa dimasukkan sebagai pengukuran management performance.
d.      Laba sebelum pajak. Pengukuran menggunakan laba langsung divisi dikurangi jumlah biaya dari pusat. Suatu pengukuran menggunakan jumlah biaya dari pusat sehingga dapat digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan. Perusahaan yang menggunakan pengukur laba sebelum pajak adalah perusahaan dengan strategi diversifikasi saling berkaitan yang juga termasuk pengukuran economic performance. Laba sebelum pajak dipilih untuk diversifikasi berkaitan karena perusahaan tersebut sejenis sehingga dengan mudah dapat mengetahui tingkat kinerja perusahaan terebut. Maka akan lain halnya dengan perusahaan yang tidak sejenis.
e.       Laba setelah pajak / laba bersih. Diperoleh dengan laba sebelum pajak dikurangi dengan pajak. Laba bersih ini termasuk dalam pengukuran economuc performance yaitu untuk mengukur laba pada perusahaan dengan strategi diversifikasi tidak saling berkaitan. Alasannya adalah pada perusahaan dengan strategi tersebut mempunyai anak perusahaan / unit bisnis yang berbeda-beda sehingga biaya dan tujuan dalam produksi dan pendapatan pun juga berbeda. Maka dari itu,  secara mudahnya dalam mengukur tingkat kinerja, digunakanlah laba bersih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer